Stop Labeling to Our Children

oleh SuperParenting pada 18 Mei 2012 pukul 14:37 ·

Seorang anak laki-laki berumur 5tahun, sebut saja namanya Tono. Tono adalah seorang anak yang sangat lincah, yang memiliki rasa ingin tahu yang besar. Ia senang melakukan aktivitas fisik seperti berlari, memanjat, dan meloncat. Tono tidak merasa senang jika ia diminta untuk duduk diam. Di sekolah, Tono dapat mengerti pelajaran dengan baik, hanya saja dia sering kali tidak betah untuk duduk berlama-lama.

 

Tono sangat bersemangat apabila guru mengajak aktivitas di luar, seperti berlari dan memanjat, wow… itu Tono sangat suka, ia bahkan jauh lebih terampil dan cepat dibanding teman-temannya. Waktu di kelas, karena bosan, Tono sering kali berjalan-jalan di dalam kelas dan menjadi usil, ada saja teman yang dia goda atau dia ajak main barsama saat kelas sedang berlangsung.

 

Guru yang mengajar Tono menganggap Tono anak yang susah diatur, tidak bisa mendengarkan dengan baik, usil, nakal, tidak disiplin, dan tidak menghormati gurunya, pendek kata Tono di “label” sebagai anak usil, nakal, bandel, trouble maker oleh sang guru. Semakin sang guru sering memperingatkan, menghardik, dan memarahi Tono, semakin Tono tidak menggubris apa yang dikatakan sang guru. Karena kehabisan akal, sang guru akhirnya memanggil orang tua Tono untuk bertemu.

 

Saat pertemuan, sang guru menceritakan semua tingkah laku Tono saat di kelas yang dia anggap nakal, bandel, melawan, tidak disiplin, dan kurang ajar. Karena orang tua Tono sehari-hari jarang bersama dengan Tono di rumah karena bekerja, maka informasi dari guru diterima begitu saja oleh orang tua Tono dan mereka sepakat bahwa Tono adalah anak yang bermasalah, Tono adalah anak yang bandel, nakal, dan trouble maker demikian mereka me ‘label’ Tono.

 

Kejadian ini mereka ceritakan kembali kepada keluarga dekat ke oma, opa, tante, om, dan yang lain dengan harapan mereka dapat membantu untuk menasehati Tono.

 

Tetapi ternyata apa yang terjadi??

 

Saat Tono main ke rumah Oma dan Opa, dia sangat senang, karena di sana ada tempat yang luas di mana Tono dapat berlari-lari. Saking senangnya, Tono pun memanjat. Tapi ternyata yang Tono panjat adalah teralis-teralis jendela. Kontan saja Oma dan Opa yang melihat Tono langsung berteriak memperingatkan Tono untuk berhenti, tetapi Tono tidak menghiraukannya. Ia tetap asyik melakukannya. Segera terdengar kata-kata omelan, “Dasar bandel, tidak mendengar nasehat orang tua, tidak bisa diatur, dan lain-lain.”

 

Label-label ini terus berulang dan berulang, dengan waktu dan kejadian yang berbeda, makin lama label tersebut benar-benar menjadi label yang melekat erat pada Tono. Sekarang, saat Tono ditanya kenapa ia melakukan suatu perbuatan yang tidak baik seperti mengganggu teman, dengan enteng Tono menjawab, “Ga Enak ah, Kalo Gak Nakal!” Saat ada orang yang menasehati Tono, dia pun tidak menghiraukannya. Tono berkehendak sesuka hati, mengusili teman, membuat onar sudah menjadi kebiasaannya.

 

Miris bukan?

 

Sangat menyedihkan dan memprihatinkan.

 

Semua label negatif tersebut sudah menjadi citra diri Tono, semua label negatif tersebut akan dibawa seorang anak yang masa depannya masih sangat panjang, seorang anak yang memiliki bakat dan kemampuan yang unik dan hebat.

 

Kita, sebagai orang tua, sering kali memberikan label-label tertentu pada anak-anak kita. Kita tidak sadar bahwa label-label tersebut merusak citra diri anak dan masa depannya. Kita tidak sadar bahwa label yang kita katakan berulang-ulang membuat anak percaya dan menganggap bener bahwa mereka memang demikian adanya. Padahal sering kali saat ada orang mengkritik kita, memberi saran kepada kita, kita sering marah, terluka, bahkan sakit hati. Demikian juga sebenarnya yang terjadi dengan anak-anak kita, mereka terluka, merasa rendah, dan merasa tidak berharga saat keluarga dan lingkungan me ‘label’ mereka.

 

Seperti luka yang dalam, ‘label-label’ akan terus membekas di hati anak-anak kita, jadi, Marilah kita belajar untuk segera menghentikan kebiasaan-kebiasaan tersebut. Marilah kita belajar untuk tidak me ’label’ anak-anak kita. Seperti kita ingin dihargai dan menghargai diri sendiri, demikian juga anak-anak kita.

 

Ingat! Bahwa anak-anak kita adalah duplikat dari kita sendiri……Anak-anak adalah cerminan dari diri kita……

 

Label hanya merusak citra diri anak, so just say STOP labeling to Our Children.

 

Menghargai Anak kita sama dengan Menghargai Diri Kita Sendiri