Keluarga adalah unit sosial yang terkecil. Bukan hanya itu, keluarga juga merupakan unit ekonomi dan spiritual terkecil. Seperti batu bata yang menyusun dinding yang kokoh, maka keluarga merupakan unit yang bersama-sama membentuk masyarakat yang kokoh, baik secara sosial, ekonomi dan spiritual.

Pentingnya memperkuat berbagai aspek dari keluarga semakin disadari karena sebagai unit edukasi dan interaksi terkecil dari masyarakat, keluarga merupakan ajang untuk knowledge sharing yang handal, apabila dapat di manfaatkan secara optimal. Banyak hal-hal yang tidak dapat di ajarkan di sekolah, harus dan sepatutnya diajarkan di rumah, guna melengkapi pendidikan bagi anggota keluarga. Salah satu yang jelas terlihat adalah kurangnya pendidikan tentang keuangan pribadi di jenjang pendidikan formal yang didapatkan oleh masyarakat. Pendidikan tentang keuangan hanya berhenti di tingkatan dasar, yaitu anjuran untuk menabung, tetapi tidak di lanjutkan dengan keahlian-keahlian lain yang akan menunjang keputusan seseorang dalam berkeuangan. Berbagai pendekatan mengenai keuangan keluarga telah dilakukan, salah satu pendekatan yang dilakukan adalah dengan pendekatan spiritual dengan Perencanaan Keuangan Islam. Mengapa kemudian pendekatan ini menjadi salah satu alternatif bagi keluarga, karena dalam perencanaan keuangan Islam, ada beberapa hal mendasar yang membuatnya berbeda dengan pendekatan lain yang konvensional.

Harus Berdasarkan Nilai-Nilai Islam

Hal pertama yang ditekankan disini adalah bahwa semua strategi, proses dan tujuan dari perencanaan keuangan yang dilakukan berdasarkan nila-nilai Islam, mengacu kepada AlQuran dan hadits. Hal ini memberi fondasi dan kerangka dari pendekatan dan proses yang dilakukan.

Yang kedua, bahwa harta merupakan titipan dan pemilik mutlak dari harta adalah Allah SWT, ini yang memberikan dimensi bahwa manusia sekaligus hamba sekaligus khalifah Allah SWT di muka bumi harus tunduk dan patuh pada ketentuan-ketentuan Allah dalam mengelola harta titipan Allah tersebut.

Yang ketiga, tujuan yang ingin dicapai oleh perencanaan keuangan Islam adalah bukan hanya pemenuhan tujuan-tujuan finansial atau kebebasan finansial, tetapi tujuan akhir dari perencanaan keuangan Islam adalah untuk mencapai kesejahteraan dan kebaikan dunia akhirat, suatu dimensi tujuan yang lebih menyeluruh.

Seperti yang disampaikan oleh Eko P. Pratomo dalam Workshop Cerdas Finansial Dengan Nilai-Nilai Spiritualitas yang dilaksanakan oleh Hijrah Institute dan Universitas Paramadina, “Kita belajar dan menuntut ilmu agar bisa memiliki pekerjaan dan penghasilan, namun kita tidak pernah diajari bagaimana mengelola keuangan dengan baik untuk diri kita dan keluarga kita”.

Kurangnya pendidikan finansial di sekolah dan pendidikan formal, harus di isi dengan pendidikan tentang keuangan pribadi melalui jalur-jalur pelatihan dan untuk hal-hal yang mendasar, seyogyanyahal tersebut dilakukan di tingkatan keluarga dan menjadi kebiasaan dan gaya sehari-hari.

Kecenderungan yang terjadi selama ini adalah permasalahan bagaimana mengelola keuangan keluarga selalu kurang mendapat perhatian. Padahal dengan makin rumitnya permasalahan kehidupan dan makin beragamnya tujuan keuangan yang ingin dicapai, maka diperlukan ilmu yang memadai di mana ilmu tersebut tidak hanya mencakup masalah finansial tetapi juga bagaimana pengelolaan tersebut juga dapat memperbaiki kualitas hidup di dunia, tetapi juga kualitas keimanan dan dimensi akhirat yang tidak dapat dipisahkan dari dimensi dunia. Seperti yang disampaikan oleh Palgunady T. Setyawan,motivator dan penulis buku Menapak Jalan Mendaki, ” Masalah keuangan kadang terlihat sepele, namun jika tidak dihadapi secara Cerdas, Cermat dan Amanah, harta yang kita peroleh bisa membawa kita jauh dari tujuan meraih kebahagiaan dunia akhirat”

Menyeluruhnya dimensi yang dijangkau oleh perencanaan keuangan Islam, dapat dilihat bahwa bukan hanya tujuan finansial yang menjadi titik beratnya, tetapi juga bagaimana memperoleh harta tersebut dan proses untuk mencapai tujuan finansial. Keberkahan yang diyakini hanya akan di peroleh melalui harta yang halal, dan tujuan yang tidak menyimpang dari tuntunan agama menjadikan perencanaan keuangan Islam merupakan bagian integral dari perencanaan hidup amanah dan bersih yang dilakukan oleh Muslim.

Perencanaan menjadi hal yang penting, tetapi lebih penting lagi adalah fondasi dan kerangka daripada perencanaan tersebut. Bagi muslim, yang tujuan kehidupannya tiada lain untuk meraih ridha Allah, mencapai kebaikan dunia dan akhirat, adalah merupakan hal yang logis apabila dalam mengelola harta dan berikhtiar pun berada dalam koridor keislaman. Dari titik awal perencanaan, proses, strategi sampai dengan tujuan-tujuan yang ingin di capai dengan perencanaan tersebut, berada di koridor Ilahiyah dan Spiritualitas, sehingga pertimbangan dan keputusan yang di lakukan pun menjadi selaras dengan nilai-nilai Islam.

Sumber: Majalah Sharing Edisi 46 Thn V Oktober 2010