Wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Kepada Abu Dzar Al-Ghifari: Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “Kekasihku Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan 7 hal:
(1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka,
(2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada org yg berada di bawahku & tidak melihat kepada org yg berada di atasku,
(3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku,
(4) aku dianjurkan memperbanyak ucapan la haula wala quwwata illa billah (tdk ada daya& upaya kecuali dgn pertolongan Allah)
(5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit,
(6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yg mencelaku dalam berdakwah kepada Allah, dan..
(7) beliau menyuruh aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia. *tapi mintalah kepada Allah*
TAKHRIJ HADITS:Hadits ini shahih, Imam ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul-Kabîr (II/156, no. 1649),lafazh hadits ini miliknya.

Stop Labeling to Our Children

oleh SuperParenting pada 18 Mei 2012 pukul 14:37 ·

Seorang anak laki-laki berumur 5tahun, sebut saja namanya Tono. Tono adalah seorang anak yang sangat lincah, yang memiliki rasa ingin tahu yang besar. Ia senang melakukan aktivitas fisik seperti berlari, memanjat, dan meloncat. Tono tidak merasa senang jika ia diminta untuk duduk diam. Di sekolah, Tono dapat mengerti pelajaran dengan baik, hanya saja dia sering kali tidak betah untuk duduk berlama-lama.

 

Tono sangat bersemangat apabila guru mengajak aktivitas di luar, seperti berlari dan memanjat, wow… itu Tono sangat suka, ia bahkan jauh lebih terampil dan cepat dibanding teman-temannya. Waktu di kelas, karena bosan, Tono sering kali berjalan-jalan di dalam kelas dan menjadi usil, ada saja teman yang dia goda atau dia ajak main barsama saat kelas sedang berlangsung.

 

Guru yang mengajar Tono menganggap Tono anak yang susah diatur, tidak bisa mendengarkan dengan baik, usil, nakal, tidak disiplin, dan tidak menghormati gurunya, pendek kata Tono di “label” sebagai anak usil, nakal, bandel, trouble maker oleh sang guru. Semakin sang guru sering memperingatkan, menghardik, dan memarahi Tono, semakin Tono tidak menggubris apa yang dikatakan sang guru. Karena kehabisan akal, sang guru akhirnya memanggil orang tua Tono untuk bertemu.

 

Saat pertemuan, sang guru menceritakan semua tingkah laku Tono saat di kelas yang dia anggap nakal, bandel, melawan, tidak disiplin, dan kurang ajar. Karena orang tua Tono sehari-hari jarang bersama dengan Tono di rumah karena bekerja, maka informasi dari guru diterima begitu saja oleh orang tua Tono dan mereka sepakat bahwa Tono adalah anak yang bermasalah, Tono adalah anak yang bandel, nakal, dan trouble maker demikian mereka me ‘label’ Tono.

 

Kejadian ini mereka ceritakan kembali kepada keluarga dekat ke oma, opa, tante, om, dan yang lain dengan harapan mereka dapat membantu untuk menasehati Tono.

 

Tetapi ternyata apa yang terjadi??

 

Saat Tono main ke rumah Oma dan Opa, dia sangat senang, karena di sana ada tempat yang luas di mana Tono dapat berlari-lari. Saking senangnya, Tono pun memanjat. Tapi ternyata yang Tono panjat adalah teralis-teralis jendela. Kontan saja Oma dan Opa yang melihat Tono langsung berteriak memperingatkan Tono untuk berhenti, tetapi Tono tidak menghiraukannya. Ia tetap asyik melakukannya. Segera terdengar kata-kata omelan, “Dasar bandel, tidak mendengar nasehat orang tua, tidak bisa diatur, dan lain-lain.”

 

Label-label ini terus berulang dan berulang, dengan waktu dan kejadian yang berbeda, makin lama label tersebut benar-benar menjadi label yang melekat erat pada Tono. Sekarang, saat Tono ditanya kenapa ia melakukan suatu perbuatan yang tidak baik seperti mengganggu teman, dengan enteng Tono menjawab, “Ga Enak ah, Kalo Gak Nakal!” Saat ada orang yang menasehati Tono, dia pun tidak menghiraukannya. Tono berkehendak sesuka hati, mengusili teman, membuat onar sudah menjadi kebiasaannya.

 

Miris bukan?

 

Sangat menyedihkan dan memprihatinkan.

 

Semua label negatif tersebut sudah menjadi citra diri Tono, semua label negatif tersebut akan dibawa seorang anak yang masa depannya masih sangat panjang, seorang anak yang memiliki bakat dan kemampuan yang unik dan hebat.

 

Kita, sebagai orang tua, sering kali memberikan label-label tertentu pada anak-anak kita. Kita tidak sadar bahwa label-label tersebut merusak citra diri anak dan masa depannya. Kita tidak sadar bahwa label yang kita katakan berulang-ulang membuat anak percaya dan menganggap bener bahwa mereka memang demikian adanya. Padahal sering kali saat ada orang mengkritik kita, memberi saran kepada kita, kita sering marah, terluka, bahkan sakit hati. Demikian juga sebenarnya yang terjadi dengan anak-anak kita, mereka terluka, merasa rendah, dan merasa tidak berharga saat keluarga dan lingkungan me ‘label’ mereka.

 

Seperti luka yang dalam, ‘label-label’ akan terus membekas di hati anak-anak kita, jadi, Marilah kita belajar untuk segera menghentikan kebiasaan-kebiasaan tersebut. Marilah kita belajar untuk tidak me ’label’ anak-anak kita. Seperti kita ingin dihargai dan menghargai diri sendiri, demikian juga anak-anak kita.

 

Ingat! Bahwa anak-anak kita adalah duplikat dari kita sendiri……Anak-anak adalah cerminan dari diri kita……

 

Label hanya merusak citra diri anak, so just say STOP labeling to Our Children.

 

Menghargai Anak kita sama dengan Menghargai Diri Kita Sendiri

Tak Ada Kedewasaan yang Instant

oleh Mohammad Fauzil Adhim pada 20 April 2012 pukul 6:01 ·

Makanan dan minuman boleh instant. Tanpa bersusah meracik, setiap orang bisa membuat mie dengan rasa yang sama. Tak ada bedanya kopi bikinan anak kecil dengan hasil seduhan orang dewasa. Sebabnya, mereka sama-sama pakai kopi instant. Tanpa perlu memahami karakter kopi, setiap orang bisa menghidangkan kopi dengan rasa yang cukup enak di lidah karena bahannya instant. Tetapi, samakah kopi instant dengan kopi yang diracik secara khusus oleh koki berpengalaman? Sangat berbeda. Sebagaimana berbeda sekali nilai dan harga sebuah jam tangan yang dibuat oleh tangan seorang ahli yang terampil dan berpengalaman dengan arloji pabrikan yang dalam waktu sehari bisa memproduksi ratusan dan bahkan ribuan keping.

 

Tak ada kecerdasan instant. Apalagi kedewasaan. Kita mungkin bisa menjadikan seorang anak tiba-tiba tampak hebat karena mampu menggambar, menulis atau membaca dengan mata tertutup. Tetapi sangat berbeda kemampuan menebak, menginderai dan mengenal dengan kemampuan mencerna, memahami, memikirkan dan mengembangkan sebuah konsep. Hari ini, banyak orangtua yang bersibuk-sibuk menjadikan anaknya tampak hebat, tetapi lupa membangun pilar kehebatan itu sendiri.

 

Sesungguhnya, taraf kemampuan kognitif anak bertingkat-tingkat secara hierarkis. Dan pendidikan berkewajiban mengantarkan setiap anak agar mampu mencapai taraf kognitif yang setinggi-tingginya. Taraf paling rendah adalah pengetahuan. Ini merupakan kemampaun untuk mengetahui, mengenal dan mengingat apa-apa yang sudah ia pelajari. Ia bisa mengulang kembali dan menyampaikan kepada orang lain. Di negeri ini, pelajaran di kelas dan ujian di sekolah kerapkali hanya menakar kemampuan kognitif terendah, yakni pengetahuan.

 

Berbagai teknik atau trik yang banyak diperkenalkan (lebih jelasnya: dijual) kepada masyarakat umumnya sebatas membantu anak mencapai kemampuan kognitif terendah. Bukan mengembangkan kemampuan berpikir. Lebih-lebih cara berpikir, umumnya hampir tak tersentuh. Tetapi inilah yang paling mudah kita lihat: atraksi kebolehan dan demonstrasi yang menunjukkan perubahan cepat luar biasa. Karena terpukau, kita kemudian kehilangan daya berpikir kritis tatkala para trainer itu mengatakan bahwa trik-trik tersebut membangun karakter anak! Padahal yang dimaksud bukan karakter. Yang dimaksud hanyalah sebatas kemampuan kognitif. Paling jauh keterampilan sosial yang bernama sopan santun.

 

Sungguh, sopan santun sangat berbeda dengan karakter. Sebagai keterampilan, sopan santun merupakan bagian dari kecakapan sosial. Sementara karakter lebih banyak berkait dengan kualitas personal pada diri seseorang. Karakter bermula dari kesadaran terhadap nilai-nilai (bukan sekedar tahu atau bahkan paham), partisipasi atau kesediaan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, penghayatan nilai, pengorganisasian nilai dan barulah kemudian sampai pada tingkat karakterisasi diri. Yang dimaksud dengan penghayatan nilai adalah kemampuan untuk menerima nilai dan terikat kepadanya. Sedangkan pengorganisasian nilai merupakan kemampuan untuk memiliki sistem nilai dalam dirinya. Sampai pada tingkat ini, karakter masih belum terbentuk. Karakterisasi baru terjadi apabila seseorang telah mampu memilih nilai sebagai gaya hidup (life style) dimana sistem nilai yang terbentuk mampu mengawasi tingkah lakunya.

 

Jadi, ada proses panjang sebelum terbentuk dalam diri seseorang. Ia bukan sekedar keterampilan. Ia merupakan perwujudan nilai-nilai yang mempengaruhi pikiran, cara pandang, penghayatan dan gaya hidup kita. Ia menjadi penakar dalam menentukan sebuah tindakan terkait dengan patut atau tidak, mulia atau hina. Ia berangkat dari kesadaran. Bukan pengetahuan. Kesadaran merupakan tingkat terendah dari kemampuan afektif. Sedangkan tingkat terendah kemampuan kognitif adalah pengetahuan (knowledge). Ini berarti, sekedar pintar tak berpengaruh pada karakter.

 

Setingkat di atas pengetahuan adalah pemahaman (understanding). Pada tingkat ini –tingkat terendah kedua dalam kemampuan kognitif—anak mengerti dengan baik apa yang dipelajari. Kemampuan ini bukan semata karena anak belajar, tetapi karena pendidik memang memahamkan. Bukan sekedar menyampaikan sejelas-jelasnya sehingga anak mengingat dengan baik dan mampu menyampaikan kembali secara gamblang. Pendidik perlu secara serius merangsang kemampuan berpikir anak sehingga mereka memahami dengan baik apa yang diterangkan.

 

Yang perlu kita catat, pemahaman tidak berpengaruh terhadap perilaku. Pemahaman baru akan bermanfaat menuntun dan mengarahkan perilaku anak-anak kita jika mereka telah menghayati nilai-nilai agama ini dengan baik. Sangat berbeda, menghayati dengan memahami.

 

Itu pula yang menerangkan mengapa anak yang telah memahami baik-buruknya sesuatu, tidak berubah perilakunya. Kecerdasan mempengaruhi kemampuan mengingat, mencerna dan memahami sesuatu. Sedangkan keyakinan mendorong orang untuk menggunakan seluruh kemampuannya agar bisa melakukan apa yang telah menjadi keyakinannya, meskipun bertentangan dengan pemahamannya.

 

Kembali pada jenjang-jenjang kemampuan kognitif. Setingkat di atas pemahaman adalah penerapan (aplikasi), yakni kemampuan menggunakan hal-hal yang telah dipelajari untuk menghadapi situasi-situasi baru dan nyata. Ini bukan berurusan dengan keyakinan. Ini erat kaitannya dengan kecakapan untuk menerapkan apa yang telah ia ketahui. Shalat misalnya. Anak bisa melakukan shalat dengan sangat baik bukan karena yakin dan suka, tetapi karena ia memahami betul tata-cara shalat yang baik.

 

Jenjang kemampuan berikutnya adalah analisis. Berbekal pemahaman yang baik dan mendalam atas berbagai pengetahuan yang telah ia dapatkan sekaligus (pernah) ia praktikkan, seseorang bisa mencapai kemampuan analisis. Ia  mampu menjabarkan sesuatu menjadi bagian-bagian sehingga struktur organisasinya dapat dipahami. Jika kemampuan ini berkembang lebih lanjut, ia akan sampai pada taraf kognitif yang lebih tinggi, yakni sintesis. Ini merupakan kemampuan memadukan bagian-bagian menjadi keseluruhan yang berarti. Ia mampu menemukan benang merah berbagai pengetahuan yang berserak menjadi satu kesatuan yang utuh dan bermakna.

 

Tingkat tertinggi kemampuan kognitif adalah penilaian. Bukan menilai orang dari apa yang tampak, melainkan kemampuan memberikan penilaian terhadap sesuatu berdasarkan yang ditetapkan terlebih dahulu, baik bersifat internal maupun eksternal. Di tingkat inilah seseorang mencapai tingkat pemahaman yang mendalam. Kemampuan ini barangkali lebih dekat dengan makna faqih. Bukan sekedar faham. Dan amat sedikit orang yang mencapai kemampuan ini. Lebih-lebih sekolah –begitu pula orangtua—lebih banyak menyibukkan diri untuk memacu kemampuan kognitif terendah, yakni pengetahuan atau paling jauh pemahaman. Kita sudah cukup bangga jika anak mengingat dengan baik, mampu menirukan secara sempurna dan menerangkan secara gamblang pelajaran yang telah mereka terima. Kita telah menganggap jenius anak-anak yang hanya menggunakan kemampuan kognitif terendah.

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: www.AnneAhira.com

Imajinasi seorang anak kerap menggambarkan tingkat kecerdasannya. Semakin tinggi imajinasinya, maka semakin tinggi pula tingkat kecerdasan anak tersebut.

Lalu bagaimana cara mengembangkan imajinasi sekaligus kecerdasan seorang anak? Salah satunya adalah dengan menyuguhkan cerita petualangan padanya.

Cerita petualangan adalah salah satu jenis cerita yang umumnya memiliki alur yang mengundang rasa penasaran,setting cerita yang beragam, dan tokoh-tokoh cerita yang memiliki karakter atau ciri khas yang unik.

Berikut ini adalah beberapa contoh kisah petualangan yang bisa Anda ceritakan pada anak-anak Anda untuk merangsang daya imajinasinya.


Cerita Petualangan Nusantara

Indonesia memiliki banyak kisah legenda yang penuh petualangan. Cerita semacam ini sangat baik untuk disuguhkan pada anak-anak, karena selain merangsang imajinasi, tapi juga membuat anak lebih mencintai kebudayaan Indonesia.

Apalagi cerita legenda penuh dengan hal-hal yang kadang tidak logis, ini mampu membuat anak semakin berimajinasi dan membayangkan tentang kejadian yang sebenarnya. Semakin banyak ia berimajinasi, otaknya akan semakin terlatih untuk berpikir dan kemudian menjadi cerdas.

Contoh cerita petualangan nusantara yang mampu memberi hikmah tersendiri dan bisa ditiru oleh anak-anak:

  • Kisah Cindelaras, seorang anak cerdas pemiliki ayam jantan dan merupakan putra mahkota.
  • Legenda Si Pitung, seorang pria dari Batavia (sekarang Jakarta) yang dengan gagah berani melawan penjajah Belanda.


Cerita Petualangan Fabel

Fabel adalah cerita dimana semua tokohnya adalah para binatang yang seolah-olah hidup seperti manusia. Cerita fabel yang penuh petualangan jelas bisa meningkatkan imajinasi seorang anak. Ia akan membayangkan seekor binatang berbicara, mempelajari karakteristiknya, dan ia pun bisa meniru sifat baik yang ditunjukkan oleh hewan-hewan tersebut dalam cerita.

Contoh cerita petualangan dalam bentuk fabel:

  • Cerita si kelinci dan kura-kura, mengisahkan tentang kelinci yang sombong karena bisa berjalan lebih cepat dari kura-kura. Namun akhirnya kalah dari kura-kura dalam sebuah perlombaan lari.
  • Kisah si kancil dan buaya, menceritakan tentang kecerdikan seekor kancil yang ingin menyeberang sungai, ia menipu beberapa buaya agar buaya-buaya tersebut mau berjajar rapi di permukaan sungai dan menjadi “jembatan”.


Cerita Petualangan Kartun

Cerita petualangan tak hanya disuguhkan lewat kata atau kalimat, tapi juga dalam bentuk visual, yaitu kartun. Banyak sekali film-fim kartun yang mengisahkan petualangan, baik tokoh manusia maupun hewan.

Contoh cerita petualangan dalam bentuk film kartun:

  • Doraemon, kartun ini kadang menyuguhkan episode petualangan yang bagus untuk anak-anak. Misalnya, petualangan di luar angkasa, atau petualangan menuju zaman purba.
  • Finding Nemo, film kartun petualangan yang sangat populer dengan tokoh anak ikan yang hilang, sedangkan Sang Ayah berpetualang mencari anaknya.
  • Aladin, bersetting di timur tengah dan banyak bercerita tentang hal-hal yang ajaib. Mulai dari jin sampai barang-barang ajaib seperti permadani terbang.


Itulah beberapa contoh cerita petualangan yang sangat bagus bila diberikan pada anak-anak Anda. Semua kisah petualangan tersebut tak hanya mampu merangsang daya imajinasi anak, tapi juga mengandung hikmah yang bisa membangun seorang anak menjadi pribadi yang lebih baik.

Sumber: www.AnneAhira.com

Ketika mendengar cerpen, pikiran Anda pasti akan tertuju pada para sastrawan hebat yang namanya sudah begitu dikenal. Oleh sebab itu, Anda kadang malu untuk mencoba menulis sebuah cerpen. Padahal, siapa pun bisa berkarya. Selama seseorang dikaruniai pikiran sehat, ia pasti bisa berkarya.

Masalahnya, tidak semua orang memiliki gaya penceritaan dan penulisan yang baik sehingga mereka malu menyebut tulisannya sebagai karya. Pada dasarnya, menulis cerpen tidaklah sulit. Menulis cerpen sama saja dengan bercerita atau curhat tentang perasaan dan kejadian sehari-hari.

Definisi Cerpen

Cerpen atau cerita pendek adalah sebuah bentuk prosa naratif. Isi cerpen cenderung padat dan langsung pada tujuan dibanding karya-karya fiksi yang lebih panjang, misalnya novel. Cerpen mengandalkan teknik-teknik sastra, misalnya tokoh, alur, tema, bahasa, dan wawasan yang lebih luas karena ceritanya singkat.

Sesuai namanya, cerpen merupakan cerita yang isinya relatif pendek dan selesai dibaca sekali duduk. Dalam sekali duduk, kita sudah bisa memahami isi cerita. Tema cerpen bermacam-macam, di antaranya percintaan, kasih sayang, dan jenaka. Cerpen biasanya mengandung pesan yang dapat dipahami dengan mudah sehingga cocok dibaca segala umur.

Unsur-Unsur Cerpen

Cerita pendek dibangun oleh unsur-unsur penting. Unsur-unsur cerpen terdiri atas unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik cerpen meliputi tema, tema, alur, latar, tokoh, penokohan atau watak, dan amanat. Sementara itu, unsur ekstrinsik mencakup budaya, jenis pekerjaan, jenis kelamin, dan sebagainya.

Tahapan Cerpen

Cerita pendek terdiri atas 4 tahapan, yaitu pengenalan, awal konflik, puncak konflik, dan penyelesaian konflik. Tahap yang paling diminati pembaca adalah bagian konflik yang merupakan klimaks atau puncak masalah sebuah cerita.

Belajar Menulis Cerpen

Setelah mengetahui definisi, unsur-unsur, dan tahapan cerpen, Anda pasti sudah memiliki gambaran untuk membuat sebuah cerpen. Membuat cerpen pada dasarnya hampir sama dengan menulis di buku diary atau catatan-catatan pendek lain. Bedanya, cerpen memiliki tokoh dan konflik yang lebih rumit.

Berikut adalah langkah-langkah mudah untuk belajar membuat cerpen.

  • Tentukan tema cerita yang ingin dibuat.
  • Buatlah kerangka karangan cerita secara kasar. Misalnya, tahap pengenalan, kemunculan konflik, klimaks, dan penyelesaian konflik.
  • Tentukan alur atau jalan cerita, misalnya alur maju (bercerita hari ini ke masa depan) atau alur mundur (menceritakan ulang hal yang telah terjadi pada masa lalu).
  • Tentukan tokoh dan wataknya.
  • Mulailah menulis cerita.

Hal lain yang perlu diingat ketika menulis cerpen adalah penggunaan gaya bahasa dan sudut pandang. Layaknya sebuah bacaan fiksi, isi cerpen tentu harus diceritakan dengan bahasa yang indah. Misalnya, malam hari bisa dideskripsikan dengan rentetan kata-kata seperti berikut ini.

Lentera rumah mulai dinyalakan, angin menghunus tulangku hingga dalam. Langit sedikit berawan menyisakan semburat cahaya bulan yang tidak utuh. Kelelawar mulai keluar dari sarangnya…

Yang dimaksud sudut pandang adalah bagaimana penulis menempatkan dirinya dalam cerita. Sudut pandang ada dua macam.

  • Sudut pandang orang pertama, yaitu penulis memposisikan diri sebagai tokoh utama. Sudut pandang orang pertama ditandai dengan penggunaan tokoh Aku.
  • Sudut pandang orang ketiga, yaitu penulis tidak berperan sebagai tokoh utama. Tokoh utama cerita diperankan oleh Dia, Ia, atau nama-nama tokoh lain seperti Bayu.

Selamat mencoba dan teruslah berkarya!

Sumber: www.AnneAhira.com

Pada dasarnya, menulis cerita itu mudah, termasuk cerita pendek (cerpen). Sehari-hari, kita tidak lepas dari komunikasi. Kita terbiasa berbicara dan bercerita kepada orang lain.

Sebetulnya, menulis cerita adalah sesederhana bercerita secara lisan kepada orang lain. Namun, cerita ini dituangkan ke dalam bentuk tulisan, bukan lisan. Artinya, kita “berbicara”, menuangkan ide lewat huruf dan kata di atas kertas.

Ketika kita berbicara tentang cerpen Islami, bercerita bukan lagi sekadar menuangkan ide di atas kertas, namun menyampaikan pesan dakwah kepada yang membaca tulisan kita. Cerpen Islami adalah sebuah media penyampaian nilai-nilai Islami ketika dakwah tidak lagi sebatas berceramah.

Jika Anda memiliki minat untuk menulis cerpen Islami, berikut beberapa kiat yang mungkin Anda butuhkan.

  1. Sebelum menulis, tentukan tema cerpen Anda. Dalam cerpen Islami, tema yang dipilih dapat berupa nilai yang diajarkan dalam Islam, seperti ukhuwah (persaudaraan), kemanusiaan, taubat, keimanan, amanah, kedermawanan, semangat beribadah, perjuangan, dan sebagainya. Jangan bingung mencari ide. Ide bisa ditemukan di mana saja, dari pengalaman Anda, kejadian di jalan, tempat kerja, sekolah atau rumah, buku yang Anda baca, film yang Anda tonton, pengalaman orang-orang sekitar, dan sebagainya.
  2. Buatlah alurnya. Tidak perlu ditulis, cukup dibayangkan saja. Boleh juga jika ingin ditulis. Usahakan alurnya seunik mungkin agar pembaca tidak bosan. Upayakan alur cerita tidak “standar”, misalnya ada orang berdosa lalu bertemu ustadz kemudian bertobat. Alur ini sudah terlalu biasa walaupun bisa jadi menarik bergantung kepintaran Anda meramu karakter, dialog, dan klimaks. Oya, setiap alur cerita harus ada klimaksnya dan sebaiknya satu saja, jangan sampai ada dua klimaks.
  3. Jangan pusing memikirkan kalimat pertama. Tulis saja walaupun Anda pikir kalimat itu harusnya ada di tengah tulisan. Dengan langsung menuju inti tulisan, pembaca tidak akan menangkap kesan bertele-tele.
  4. Jangan pusing memikirkan tanda baca dan aturan EYD. Tentu, Anda yang sudah mahir dalam tata bahasa, ini tidak masalah. Sayang jika Anda berpotensi menulis, lalu harus berhenti hanya karena Anda lemah dalam tata bahasa. Jadi, tulis saja. Anda bisa mencari teman Anda yang lebih pandai dalam tata bahasa untuk menjadi editor atau mengedit sendiri, namun setelah tulisannya jadi. Dengan sering menulis, tata bahasa Anda akan terlatih juga.
  5. Gunakan kata ganti pertama (aku). Walaupun boleh saja menggunakan kata ganti ketiga, para penulis terkenal banyak yang menggunakan kata ganti pertama. Dengan menggunakan kata ganti “aku”, pembaca akan lebih terhanyut dalam cerpen Anda.
  6. Karena cerpen ini Islami, pastikan kontennya sesuai dengan ajaran Islam. Untuk itu, Anda dapat berkonsultasi dengan ustadz atau teman Anda yang lebih mengerti agama.
  7. Terakhir, think simply. Berpikirlah sederhana. Tulislah apa yang memang tersirat dalam pikiran Anda. Jangan terlalu rumit. Mungkin Anda pernah membaca cerita-cerita rumit yang membuat Anda mengagumi penulisnya. Namun, serumit apapun cerita itu, sang penulis pastilah memulainya dari lintasan ide yang sederhana.

Selamat menulis!

Sumber: www.AnneAhira.com

Wanita yang telah menikah dan menjadi seorang istri memiliki peranan yang sangat penting di dalam sebuah keluarga.  Tidak hanya keluarga kecil yang dimilikinya saja, tetapi juga berperan dalam keluarga besar terutama dari pihak dirinya juga pihak keluarga suaminya. 

Peran dan tanggung jawab seorang istri dalam keluarga memang tidak dapat disamakan dengan seorang suami sebagai kepala keluarga, namun peran dan tanggung jawab seorang istri dalam keluarga mempunyai arti yang sama pentingnya. 

Peran seorang wanita dalam keluarga tidak hanya menjadi seorang istri saja tetapi juga menjadi ibu dari anak-anaknya, sekaligus pemimpin yang siap menggantikan tugas dan tanggung jawab suaminya kapan saja. 

Oleh karena itu seorang istri sangat dituntut jeli di dalam mengemban setiap tugas dan kewajibannya di dalam rumah.  Tentunya perlu saling kerjasama dan pengertian yang baik antara suami terhadap istri agar peran dan tanggung jawab masing-masing dapat terlaksana dengan baik.


Rasa Hormat Antara Suami Dan Istri

Dalam menjalani kehidupan berkeluarga, perlu dibina dan dijaga rasa hormat antara suami dan istri.  Kedua-duanya saling melakukan hubungan timbal balik dan searah.  Jika sudah terjadi hubungan yang searah, misalnya suami hanya ingin dihormati oleh istri tapi tidak sebaliknya maka akan menjadikan kehidupan berkeluarga yang tidak sehat dan jauh dari harmonis.

Rasa hormat akan muncul dengan sendirinya jika masing-masing, suami dan istri mengetahui posisi dan peran masing-masing.  Istri lebih banyak berperan di dalam keluarga atau domestik, mengurusi anak-anak juga memanajemen isi rumah.  Sebaliknya, posisi suami adalah pencari nafkah yang lebih mengarah pada memenuhi kebutuhan utama dalam keluarga. 

Kedua peran istri maupun suami ini sama pentingnya, jadi tidak perlu saling menimbang dan mengukur siapa yang paling berperan di dalam keluarga.

Berikut ini beberapa panduan umum yang dapat dilakukan oleh para istri dalam melakukan peran dan fungsinya dalam keluarga, agar kehidupan rumah tangga dapat berjalan dengan baik dan tenang, yaitu :

  • Melembutkan suara dan berhias

    Perkataan yang baik dan lembut akan menyenangkan orang lain, terutama jika dilakukan oleh seorang istri di rumah.  Lembut dan baik dalam bertingkah laku, juga memperhatikan penampilannya terutama saat di dalam rumah.

  • Selalu bersabar dan menjaga kehormatan

    Seorang istri dituntut untuk selalu bersabar dalam segala hal.  Menempuh sebuah perjalanan kehidupan yang panjang dalam rumah tangga pasti akan mendapatkan berbagai ujian, rintangan juga cobaan.  Untuk itulah peran istri sangat penting dan dibutuhkan dalam menopang dan menguatkan.  Menjaga kehormatan keluarga juga dirinya merupakan tugas mulia dari seorang istri yang baik.